by

Problematika Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Daring Di Sekolah

Oleh Dedi Febriyanto Mahasiswa Pascasarjana Universitas Lampung

Sejak surat keputusan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai upaya pencegahan dan penyebaran covid-19 terbit, semua kegiatan pembelajaran konvensional mulai diliburkan sementara waktu. Sistem pembelajaran konvensional yang dilaksanakan oleh para guru perlahan digantikan oleh berbagai aplikasi pembelajaran daring yang dapat memberi ruang interaksi langsung antara guru dengan siswa tanpa harus bertemu langsung. Guru dan siswa bahkan orang tua dipaksa beradaptasi secara cepat dengan metode ini. Di tengah situasi seperti ini, pembelajaran daring dirasa solusi yang paling tepat untuk dilakukan. Meski sekolah diliburkan, akan tetapi tuntutan dalam proses pembelajaran masih dapat terlaksana dan tercapai. Keadaan yang demikian menimbulkan beberapa problematika baru dalam pembelajaran di sekolah. Problematika pembelajaran itu sendiri dapat diartikan sebagai segala permasalahan yang mengganggu, menghambat, atau mempersulit bahkan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran (Rosihuddin, 2011:11).

Menurut Sanjaya (2020: 14) pembelajaran daring adalah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi atau jaringan internet dalam proses pembelajaran. Maraknya penularan ini covid-19 membuat dunia menjadi resah termasuk Indonesia. Social distancing diterapkan oleh pemerintah dalam rangka membatasi interaksi masyarakat dari keramaian dan terhindar dari virus ini. Pembatasan interaksi juga dilakukan dalam ranah pendidikan. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran mengalami beberapa kendala. Adapun masalah/kendala umum yang mempengaruhi pembelajaran daring adalah sebagai berikut.

  1. Tidak adanya jaringan data/kuota. Tidak adanya data atau kuota menjadi kendala dalam proses pembelajaran daring.
  2. Kurangnya pemahaman Tentang IT. Perkembangan teknologi saat ini dirasa penting karena ilmu teknologi akan membantu proses belajar mengajar seseorang tanpa harus bertemu langsung secara tatap muka. Namun tidak semua masyarakat mengerti tentang teknologi karena sebagian orang tua siswa terutama yang berada di pedesaan tidak memiliki alat komunikasi seperti handphone. Hal ini yang menjadi kendala pembelajaran daring.
  3. Tidak adanya jaringan/signal. Jaringan internet bisa tersambung dari handphone atau alat komunikasi dikarenakan adanya sinyal, jika dalam keadaan tidak adanya sinyal maka akan mengakses sesuatu di dalam internet (Ridwan, 2020:16). Tidak boleh ada kata tidak siap dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Kreativitas dan komunikasi menjadi dua hal yang sangat penting dalam memastikan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Baca Juga :   Enam Warga Berprofesi Petani dan Buruh Ditangkap

Problematika lain yang terjadi dalam pembelajaran daring di masa pandemi adalah berkenaan dengan kompetensi guru, perbedaan kemampuan siswa, dan ketidakmampuan orang tua siswa dalam bekerja sama dan memenuhi tuntutan pembelajaran daring.

Kompetensi Guru, Profesionalisme guru ini sangat menunjang keberhasilan siswa dalam belajar di sekolah. Jika seorang guru mempunyai kompetensi yang baik maka akan tercipta pula para peserta didik yang pemahamannya di sekolah dapat diterapkan di rumah. Selanjutnya jika seorang guru mempunyai profesionalisme dan pemahaman agama yang baik maka akan mudah sekali menjelaskan kepada siswa tentang materi keagamaan. Materi keagamaan sangatlah penting di dalam pendidikan konvensional agar kelak menjadi bekal siswa terhadap perubahan teknologi. Sekolah konvensional juga membentuk kepribadian siswa menjadi lebih berakhlak mulia dan ahli ibadah (Afifah, 2015).

Hal yang sangat diperhatikan dalam pembelajaran daring berkaitan dengan kompetensi guru adalah kemampuan guru terhadap ilmu teknologi, tentunya disamping kemampuan guru yang lainnya. Teknologi dalam pembelajaran daring tidak bisa dihindarkan sama sekali. Bahkan teknologi itulah yang menjembatani terciptanya proses pembelajaran tanpa harus bertatap muka secara langsung. Keadaan ini menuntut guru untuk dapat secara cepat beradaptasi dan menguasai teknologi khususnya yang berbasis aplikasi.

Kemampuan Peserta Didik yang Beragam, Keberagaman adalah suatu keadaan yang hampir ada di setiap aspek kehidupan, tidak terkecuali di dalam pembelajaran. Peserta didik sebagai pusat perhatian memiliki kemampuan yang beragam dalam memahami ilmu-ilmu yang disampaikan. Keberagaman peserta didik tersebut juga menuntut guru untuk melakukan perbedaan perlakuan. Kemampuan anak yang rata-rata kecerdasannya lambat, guru perlu memperjelas materi dengan dengan membimbing siswa secara penuh, sehingga terkesan guru lebih aktif, bukan siswanya yang aktif. Keadaan tersebut menjadi kendala dalam pembelajaran daring. Pembelajarana daring yang berbasis aplikasi memiliki waktu yang relatif singkat dan dibatasi. Hal ini akan menjadi masalah ketika ada siswa yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata dan membutuhkan perlakuan lebih dibanding siswa lainnya. Perlakuan tersebut akan menyita banyak waktu sehingga tujuan pembelajaran pada akhirnya tidak tercapai secara maksimal.

Baca Juga :   Sebanyak 42 Rumah di Burnai Mulya Terendam Banjir

Ketidakmampuan Orangtua Siswa Memenuhi Tuntutan Pembelajaran Daring, Tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu. Kenyataan ini mendasari lahirnya kendala kedua ini. Saat pembelajaran dilaksanakan secara daring, ada beberapa hal baru yang harus ada dan dimiliki oleh peserta didik. Pertama, ponsel pintar (android). Salah satu hal wajib yang minimal harus dimiliki peserta didik adalah ponsel pintar. Ponsel pintar ini diperlukan untuk mengakses aplikasi-aplikasi yang digunakan sebagai sarana pembelajaran daring. Kedua, data internet. Mempunyai ponsel pintar tidak serta merta bisa mengikuti pembelajaran daring. Peserta didik juga diharuskan memiliki paket data internet. Paket data tersebut juga tidak bisa didapatkan secara gratis. Meskipun dari pihak pemerintah sudah melakukan upaya menggeratiskan data internet, tapi upaya tersebut dinilai kurang maksimal dalam kenyataannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana nasib peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu? Jangankan untuk membeli ponsel pintar dan data internet, bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka kesusahan memenuhinya. Hal inilah yang menjadi salah satu kendala dalam pembelajaran daring. Berkenaan dengan kendala ini, kebijaksanaan guru sangat diperlukan dalam menyikapi keadaan siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Guru harus memberikan keringanan kepada siswa bersangkutan dalam hal pemberian tugas, nilai, dan lain sebagainya. Jika memungkinkan, guru bisa memberikan pola pembelajaran yang berbeda kepada siswa kurang mampu

Comment

News Feed