by

Petani Minta Bantuan Pompa dan Sumur Bor

SUMSEL.NEWS – OKU Timur – Terkait dengan kekeringan yang di alami lahan sawah milik petani di Desa Cahya Negeri, Semendawai Suku III. Akibat musim kemarau dan lahan sawah termasuk tadah hujan.

Desdiana Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Cahya Negeri Semendawai Suku III, mengatakan, membantah anggapan saat dirinya turun melakukan pengecekan terhadap lahan sawah milik petani yang terancam kekeringan.

Hanya melakukan dokumentasi foto semata dan tak memberikan solusi. Bantahan tersebut diungkapkannya pada Rabu sore sekitar Pukul 17.00 WIB (16)6/2021).

Dirinya telah mengecek dan berdiskusi dengan petani tentang solusi apa saja perlu dilakukan. Agar padi tak mengalami kekeringan.

Dia telah mengarahkan para petani untuk terus melakukan antisipasi kekeringan. Dengan pompanisasi menggunakan air sumur bor dan pompanisasi dengan air dari sungai macak.

“Karena paling efektif untuk mengatasi kekeringan disini (Cahya Negeri) dengan pompanisasi, dengan pompa air dan sumur bor yang itu telah dilaksanakan,” ucapnyi.

Melalui dinas pertanian, dirinya telah melakukan pengajuan kepada dinas pertanian bantuan sesuai yang diminta petani. Berupa pompa air dan sumur bor.

Selain itu, masih ada dua program lagi satu jaringan irigasi tersier (JITUT) dan kedua embung (bak penampungan air).

Dikatakan, kalau petani menginginkan irigasi, dinas memiliki program jaringan irigasi tersier (Jitut). Untuk irigasi tersier juga akan pihaknya ajukan.

Kalau ingin mendapatkan embung, salah satu syaratnya harus ada hibah lahan 10 meter persegi sebagai lokasi.

“Tinggal petani sanggup yang mana untuk melaksanakannya, Kita siap meneruskan. Yang jelas sedang diproses sekarang, dari saya terjun pertama itu, tidak hanya dokumentasi dan mendata saja. Solusi yang diharapkan petani mintanya pompa air sama sumur bor,” terangnyi.

Saat ini, pengajuan bantuan pompa air dan sumur bor telah dilakukan oleh pihaknya. Kini tinggal menunggu realisasi pengajuan.

“Berharap bantuan segera turun, karena bantuan yang diajukan sangat diharapkan petani,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pasca pemberitaan ratusan hektar sawah terancam kekeringan. Dinas Pertanian OKU Timur turunkan petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) mendatangi lokasi lahan sawah yang mengalami kekeringan di Desa Cahya Negeri, Semendawai Suku III. kunjungan dilakukan sehari setelah pemberitaan, pada sabtu (13/6/2021) lalu.

Namum demikian, kunjungan belum ada kabar baik dan solusi yang diberikan kepada petani. Petugas hanya datang memoto atau mendokumentasikan lahan sawah yang sedang dilakukan pompanisasi air dengan pompa secara swadaya oleh petani.

Sementara lahan yang kering tidak memiliki sumur bor tidak didokumentasikan.

“Ada yang datang, tapi nggak bilang apa-apa. Yang difoto-foto tempat pak kamto, disana ada sumur bornya. Harusnya yang kering (sawah) dan nggak ada sumur bor juga ikut difoto,” Kata Sumari, Warga Desa Margorejo, Kecamatan Semendawai Suku III, yang memiliki lahan di Desa Cahya Negeri. Minggu (13/6/2021).

Menurut Sumari, di Desa Cahya Negeri, dirinya menggarap lahan seluas setengah hektar. Lahan tersebut, merupakan milik orang lain yang digarap dengan sistem paroan (bagi hasil, hasil panen dikurangi seluruh biaya). Dimana penggarap lahanlah yang mengeluarkan biaya untuk pembajakan, perawatan sawah, dan termasuk bila kesulitan air biaya pemompaan air secara swadaya.

Lahan yang digarapnya tersebut dalam satu kali masa panen. Mampu menghasilkan 15 pikul (satu setengah ton) beras.

Saat ditemui, Ia sedang melakukan pemompaan air menggunakan pompa air secara swadaya (mandiri). Pemompaan air sawah sudah dilakukan selama dua hari. Yakni, sejak hari sabtu hingga minggu kemarin (13/6/2021).

Karena itulah satu-satunya solusi untuk mengantisipasi kekeringan. Ia menumpang di sumur bor milik tetangga, dengan menggunakan selang diarahkan kesawahnya.

Dalam satu hari, seperti hari sabtu (12/6/2021) Kemarin. Ia memompa air dimulai dari Pukul 07.00 WIB hingga Pukul 19.30 WIB.

Membutuhkan delapan liter minyak dengan harga Rp 9.000 Perliter. Ada juga jasa pemompaan milik warga, dengan tarif Rp 25ribu perjam.

“Sangat berharap adanya pembangunan irigasi, sehinga tidak lagi kesulitan air saat menggarap sawah,” Harap Sumari.

Ditambahkan, Basori, merupakan anak solkan, mengatakan mereka selama ini mengandalkan hujan dan air sungai kecil yang sekitar sawahnya. Kareana hujan tak kunjung turun, maka kami mengambil dari sungai kecil( yang sering mereka sebut sungai deras).

Sungai deras adalah sungai kecil, airnya berasal dari tumpahan dan pembuangan irigasi petani dari Desa Gunung Sugih dan Desa Taman Agung. Karena sumbernya hanya air tumpahan, maka airnya cepat habis.

Sebenarnya, upaya pembuatan sumur bor secara swadaya sudah dilakukan oleh mas Basori dan pak Solkan. Sudah puluhan kali, bahkan bekas pembuatan sumur bor masih ada, namun belum berhasil karena tidak ditemukan sumbernya.

“Kami sudah sekitar 50 kali bikin sumur bor tapi tidak ada yang jadi, karena tidak ada airnya,” jelasnya.(apen)

Comment