by

Monumen “Pluralisme” Gumawang OKU Timur

-Berita, Opini-96 Views

PLURALISME dann pluralis hingga kini penggunaan kata tersebut masih dalam perdebatan dikalangan para cendikiawan. Terlebih jika dikaitkan dengan Agama. Karena diantara keduanya memiliki makna yang berbeda.

Monumen Pluralisme Gumawang berangkat dari pemikiran Cak Nur (Nurcholish Madjid) salah seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, pluralisme merupakan suatu nilai yang memandang secara positif dan optimis terhadap kemajemukan semua hal dalam berkehidupan sosial dan budaya termasuk Agama.

Dalam bukunya yang cukup terkenal dan fenomenal “Islam Doktrin dan Peradaban ” beliau menyebutkan bahwa nilai-nilai universal selalu ada dalam inti ajaran agama yang mempertemukan seluruh umat manusia. Nilai nilai universal tersebut haruslah dikaitkan pada kondisi-kondisi nyata ruang dan waktu agar menjadi kekuatan positif di masyarakat sebagai dasar etika sosial.

Kala itu buku tersebut menjadi bahan perbincangan di kalangan cendikiawan yang sangat bergairah mengkaji ajaran Islam bersamaan dengan ‘booming’-nya kaum inteletual di kalangan kaum santri. Pro-kontra terjadi. Namun saat itu menjadi hal yang sangat indah, karena tidak adanya atau mudahnya pihak yang tak sependapat melaporkan diri kepada ‘hamba hukum’ dengan dalih apa pun. Tidak seperti sekarang. Berbeda dalam pemikiran dapan dengan mudah dilaporkan dan dipidanakan.

Semoga pemilihan “Pluralisme” dalam monumen tersebut dapat menjadi spirit generasi muda Belitang khususnya untuk lebih inklusif dalam bermasyarakat. Terbuka untuk hal hal positif dan bersama-sama meninggalkan hal yang negatif.

Oleh Afrijal Direktur Lentera Belitang Discuss

Comment