by

Kurikulum Merdeka Menjawab Tantangan Abad 21

Oleh: Al Mahfud

Kurikulum Merdeka yang lahir sebagai respon untuk memulihkan krisis pembelajaran yang terjadi akibat pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir. Di saat bersamaan, Kurikulum Merdeka diharapkan bisa menjadi terobosan dalam membangun pendidikan yang bisa menjawab tantangan zaman.


Berbagai persoalan yang membelenggu dunia pendidikan di Indonesia selama ini, coba diatasi dengan berbagai perubahan dan gerakan kemerdekaan belajar yang diusung Kurikulum Merdeka. Pendidikan yang lebih berfokus pada siswa serta mengutamakan kedalaman lebih ditekankan.


Mengutip dari laman kemdikbud.go.id, ada tiga poin utama yang menjadi keunggulan Kurikulum Merdeka.

Pertama, lebih sederhana dan mendalam, serta fokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik yang lebih bermakna, mendalam, dan menyenangkan.


Kedua, kemerdekaan guru dalam mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan siswa, serta adanya wewenang sekolah mengembangkan dan mengelola kurikulum sesuai karakter satuan pendidikan dan peserta didik.


Ketiga, pembelajaran melalui kegiatan projek untuk pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila melalui eksplorasi isu-isu aktual. Eksplorasi dalam bentuk proyek memberi ruang lebih bagi peserta didik untuk mengenali, memahami, dan mendalami isu-isu aktual dan faktual.


Tantangan Abad 21


Tiga poin keunggulan Kurikulum Merdeka tersebut bisa menjadi dasar yang dibangun untuk melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan zamannya. Sebab, kita sadar pendidikan hari ini bukan hanya untuk hari ini. Pendidikan hari ini adalah bekal anak menghadapi tantangan masa depan.


Pendidikan tak cukup hanya membekali anak dengan pengetahuan serta keterampilan. Pendidikan hari ini harus bisa membentuk setiap anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, serta visioner atau mampu mengatasi tantangan yang akan dihadapi di masa depan.


Arwan Syarief (2021) mengatakan, ada dua landasan pijakan berpikir dalam pembangunan pendidikan. Pertama, visi pendidikan Indonesia: mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya profil pelajar Pancasila. Kedua, ditinjau dari tantangan pendidikan di masa depan, di mana guru lebih sebagai fasilitator ketimbang sumber pengetahuan satu-satunya. Kemudian pembelajaran harus memanfaatkan teknologi, tak lagi fokus pada kegiatan tatap muka (ditpsd.kemdikbud.go.id, 26/8/2021).


Lantas, bagaimana kondisi dunia pendidikan di Indonesia selama ini? Jelas, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan apabila melihat tantangan yang dihadapi di masa depan tersebut. Di sinilah, Kurikulum Merdeka hadir memberi jawaban.


Menjawab


Sejauh mana Kurikulum Merdeka mampu menjawab tantangan masa depan? Pertama, pembelajaran yang fokus pada materi esensial, lebih menekankan kedalaman pemahaman dan softskill daripada mengejar banyaknya standar kompetensi yang sering membebani siswa.


Ikhya Ulumuddin (2022) koordinator Substansi Standar Pembelajaran PSKP mengatakan, sebelumnya Standar Kompetensi Lulusan menggunakan UN dan raport. Sedangkan Kurikulum Merdeka memberi wewenang tiap satuan pendidikan menentukan SKL masing-masing, dengan acuan nilai-nilai yang terangkum dalam Profil Pelajar Pancasila.


Saat pembelajaran berfokus ke materi essensial, akan ada waktu untuk mendalami hal-hal sifatnya penting dan mendasar, yaitu literasi dan numerasi. Skor PISA 2018 siswa Indonesia yang berada di peringat 64 dari 74 negara (OECD) adalah cambukan keras yang harus membuat kita sadar pentingnya membangun kemampuan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia sebagai modal mendasar menghadapi tantangan masa depan.


Kurikulum Merdeka juga membuka lebar ruang guru untuk secara kreatif menciptakan pembelajaran berbasis proyek yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman yang diharapkan membangun karakter, kemandirian, kepekaan dan kepedulian siswa pada berbagai isu dan persoalan di lingkungan sekitar.


Melihat Kurikulum Merdeka, ada harapan untuk bergerak menciptakan era baru pembelajaran yang lebih bermakna serta lebih berfokus pada kebutuhan siswa. Jalas, sesuatu yang baru akan menghadapi tantangan. Kita harap, berbagai tantangan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka tidak membuat seluruh stake holder dunia pendidikan berhenti belajar, evaluasi, dan berusaha, demi masa depan pendidikan Indonesia.
*Penulis, peminat topik pendidikan

Comment